Indonesia Dorong Kemandirian Energi dan Kepastian Rantai Pasok di G20, Tanpa Komunike
Indonesia membawa pesan kemandirian energi dan kepastian rantai pasok ke G20 Atlanta. Pertemuan berakhir tanpa komunike bersama maupun kesepakatan spesifik.
JAKARTA, SUARKABAR.ID – Indonesia mengangkat penguatan ketahanan nasional, kemandirian energi, dan kepastian rantai pasok dalam pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat, pada 30–31 Oktober 2026, menurut Kementerian Luar Negeri RI. Pertemuan itu berakhir tanpa komunike bersama, meskipun pangan dan energi masuk dalam prioritas yang disebut dalam pernyataan ketua.
Dalam keterangan tertulis pada Minggu (1/11/2026), Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyampaikan bahwa Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengikuti tiga sesi pleno yang membahas geopolitik, energi, dan rantai pasok. Pesan Indonesia, menurut Arrmanatha, adalah bahwa ketahanan nasional dapat memperkuat ketahanan kawasan dan selanjutnya ketahanan global.
Pada pembahasan geopolitik, Arrmanatha menyoroti dampak konflik antarnegara terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia menyerukan penurunan ketegangan, dialog, dan kerja sama untuk menghadapi dampak tersebut. Arrmanatha juga menekankan penghormatan terhadap Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut atau UNCLOS 1982 sebagai landasan hukum yang menjamin kebebasan navigasi.
Di sesi energi, Arrmanatha menempatkan ketahanan energi sebagai bagian dari ketahanan nasional. Menurut keterangan Kemlu, ia menyebut penerapan biodiesel B50 dan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt sebagai upaya Indonesia memperkuat kemandirian energi.
Arrmanatha menyatakan krisis seharusnya mempercepat transisi energi, bukan membalikkan arahnya. Ia juga menekankan perlunya transisi yang adil dan terjangkau melalui perluasan akses teknologi energi bersih serta pembiayaan dan investasi yang lebih mudah dijangkau negara berkembang.
Dalam pembahasan rantai pasok, Indonesia menekankan kepastian pasokan global dan penguatan sistem perdagangan multilateral. Usulan yang disampaikan meliputi penguatan kesiapsiagaan menghadapi krisis serta pembiayaan jangka panjang dengan biaya terjangkau.
Indonesia turut mendorong kemitraan teknologi agar negara berkembang dapat menjadi pencipta teknologi, tidak hanya pengguna. Arrmanatha juga menginginkan lebih banyak pusat produksi dalam rantai pasok global, terutama di negara berkembang.
Pertemuan ditutup pada Sabtu (31/10/2026) tanpa komunike bersama. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio selaku ketua pertemuan menerbitkan pernyataan ketua yang memuat prioritas energi dan ketahanan pangan, kebebasan navigasi, keamanan rantai pasok, serta akses terhadap mineral kritis, tetapi tidak mengumumkan kesepakatan spesifik.
Pembahasan dalam pertemuan G20 tersebut juga mencakup kebebasan navigasi di jalur laut utama, termasuk Selat Hormuz, Laut Merah, Laut Hitam, dan Laut China Selatan. Rubio mengakui anggota G20 masih jauh dari solusi yang dapat diterima semua pihak, meskipun sebagian anggota bekerja sama terutama dalam urusan rantai pasok dan mineral kritis.
Perpecahan mengenai perang Rusia–Ukraina menjadi hambatan dalam pertemuan tersebut. Rubio membatalkan sesi foto bersama setelah diplomat Eropa menyampaikan keberatan atas kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Di sela agenda G20, menurut Kemlu, Arrmanatha juga mengadakan pertemuan bilateral dengan menteri luar negeri Turkiye, Rusia, Inggris, Kanada, Arab Saudi, dan sejumlah negara lain. Rangkaian Presidensi AS di G20 akan berpuncak pada konferensi tingkat tinggi di Miami pada Desember 2026, menurut Kemlu RI.