Minggu, 1 November 2026

Ekonomi

OJK: 23 Perusahaan Menunda IPO Sepanjang 2026, Data per 30 Oktober

Data OJK per 30 Oktober 2026 mencatat 23 perusahaan menunda IPO sepanjang 2026. Dari 38 perusahaan yang berproses, tujuh tercatat dan delapan masih diproses.

Bagikan WhatsApp X Facebook Telegram

Jadikan Suar Kabar Indonesia sumber pilihan di Google

Ilustrasi AI untuk berita "OJK: 23 Perusahaan Menunda IPO Sepanjang 2026, Data per 30 Oktober"
Ilustrasi dibuat dengan AI: gambaran suasana berita "OJK: 23 Perusahaan Menunda IPO Sepanjang 2026, Data per 30 Oktober" Ilustrasi AI – Redaksi Suar Kabar Indonesia

MANDALIKA, SUARKABAR.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 23 dari 38 perusahaan yang masuk proses penawaran umum perdana saham atau IPO pada 2026 memilih menunda rencana tersebut sepanjang 2026, menurut data per 30 Oktober 2026. Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Agus Firmansyah menyebut kondisi pasar dan kemungkinan perusahaan belum siap sebagai pertimbangan penundaan.

Agus menyampaikan paparan itu dalam acara jurnalis pasar modal di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10/2026). Data tersebut mencakup periode Januari hingga 30 Oktober 2026.

Menurut Agus, dari 38 perusahaan tersebut, tujuh sudah memperoleh pernyataan efektif OJK dan tercatat di bursa, sedangkan delapan lainnya masih dalam proses. Penawaran yang telah memperoleh pernyataan efektif dari OJK dapat dilanjutkan ke pencatatan saham.

Agus menilai perusahaan mempertimbangkan kondisi perekonomian dan pasar modal sebelum melanjutkan IPO. Ia juga mengemukakan kemungkinan perusahaan belum siap atau menilai waktu pelaksanaan belum sesuai dengan keadaan pasar. Alasan itu merupakan penilaian OJK, bukan penjelasan dari masing-masing perusahaan yang menunda.

Menurut Agus, ada perusahaan yang menyampaikan pembatalan rencana IPO, tetapi sebagian besar memilih menunda hingga kondisi pasar lebih mendukung. Ia tidak menyebut jumlah perusahaan yang menyampaikan pembatalan tersebut.

Di luar jumlah perusahaan yang menunda IPO, Agus menyebut OJK masih memiliki 25 rencana penawaran umum dalam antrean atau pipeline per 30 Oktober 2026. Nilai indikatif seluruh rencana tersebut sekitar Rp27,9 triliun dan mencakup beberapa jenis penawaran umum, bukan hanya penawaran perdana saham.

Bagian IPO saham dalam antrean itu berjumlah delapan rencana dengan nilai Rp9,05 triliun. Sementara itu, lima rencana penawaran umum terbatas atau rights issue bernilai sekitar Rp10,07 triliun. Sebanyak 12 rencana lainnya berupa penerbitan efek bersifat utang dan sukuk dengan nilai Rp8,79 triliun.

Dengan rincian tersebut, nilai rencana penghimpunan dana melalui IPO saham lebih kecil daripada gabungan dua jenis penawaran lainnya. Angka Rp27,9 triliun merupakan nilai indikatif rencana penawaran, bukan dana yang seluruhnya sudah dihimpun.

Menurut data OJK yang disampaikan dalam acara tersebut, tercatat 170 penawaran umum dengan nilai emisi Rp202 triliun hingga 30 Oktober 2026.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada Rabu (28/10/2026), Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan target 25 perusahaan baru tercatat pada 2027. Target tersebut lebih rendah daripada sasaran 2026 yang berjumlah 50 perusahaan.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut kebutuhan pembiayaan pembangunan kawasan industri dan manufaktur sebagai salah satu potensi sumber perusahaan yang akan masuk bursa. Ia juga menyebut potensi dari perusahaan hasil restrukturisasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara, sembari mengakui tantangan mencapai target masih cukup besar.

Sumber

Berita terkait Ekonomi lainnya